Sahara

Bermalam sendirian di Sahara

Aku yang memutuskan untuk bermalam di Sahara malam itu.
Melalui member couchsurfing di Desa Mhamid aku memintanya mencarikanku sebuah mobil 4 wheel D yang bisa disewa lengkap denfan drivernya untuk mengantarkan kami dari desa terakhir M’Hamid menuju ke padang gurun Sahara.
Sudah pasti yang namanya Padang gurun tidak bakal ada transportasi umum yaa.Sang sopir sengaja membawa anak lelakinya yang seumuran dengan anakku yang kala itu beurmur 7 tahun supaya anakku ada teman bermain dan tidak merasa kesepian.Perjalanan ke Padang gurun itu masih ditemani Hassan seseorang yang aku kenal dari Couchsurfing itu yang biayanya sebagai guide sudah termasuk didalam paket sewa mobil pp bermalam dan biaya nginap dalam sebuah tenda khas padang pasir, termasuk makan dan minum.
Setelah melakukan perjalanan 2,5 jam dari desa terakhir M’Hamid sampailah kami di Erg Chigaga, nama padang pasir yang dianggap paling terbuas di Morroco . Sebuah padang pasir yang bergundukan tinggi sekitar 60 meter dan dianggap menjadi padang pasir yang bergundukan tertinggi disepanjang Morroco.
Begitu sampai aku langsung keluar dari mobil. Seorang laki-laki berpakaian tradisional ala suku Ürümqi di perbatasan Kyrgyzstan datang menyambut kami. Dia berkopiah dan berjubah Kaftan bersulam ala lelaki Timur Tengah. Sungguh mengingatkanku pada lelaki Ürümqi di perbatasan China_Kirgyztan.

Lelaki itu menyambut kami dengan ramah dan memperkenalkan dirinya sebagai orang kepercayaan yang mengelola tenda tempat kami menginap malam itu. Dia bekerja dengan 2 teman kerjanya di tenda atau bivouac sewaan yang berjumlah 8 buah.

„Selamat datang di tenda kami Madam“ sapanya dalam bahasa inggris yang kacau ramah menyorongkan tangan.
Setelah menyerahkan barang bawaan kami, aku sudah tidak sabar lagi ingin segera pergi menikmati pemandangan Padang gurun yang luas menjulang dibelakang tenda.
Jam sudah menunjukkan pukul 5.30 sore, sebentar lagi pasti matahari akan tenggelam. Kami harus bergegas mencari posisi yang bagus untuk menikmati sunset sore itu.
Setelah mendengar penjelasan singkat dari kepala tenda tentang keadaan disitu aku langsung menarik tangan anakku pergi.
„Ayo nak, kita harus buru-buru” kataku seperti orang panik „Sunset sebentar lagi tiba dan kita harus bisa sampai ke tempat gunung pasir yang tertinggi itu jika ingin menikmati pemandangan yang spektakuler.“ Anakku langsung lari mengejar dari belakang.
„Tungguuuu…“ kata sang sopir yang mengantar kami „kalian tidak boleh pergi sendirian, biar kutemani.“ Katanya sambil terus mengejar kami dari belakang.
Tanpa mau berhenti aku dan anakku terus berlari tanpa alas kaki menanjak menaiki gunung pasir yang mulai meninggi gundukannya.
Setelah 15 menit berlari, kami sudah berada di gundukan pasir yang tinggi dan aku rasa kami cukup sampai disitu saja. Dari sini kami sudah bisa melihat pemandangan padang gurun yang luar biasa indahnya.
„Masya Allah „ teriak ku melengking.
“Omaigat, omaigaattttt” anakku ikut-ikutan.
„Oh Tuhaaann…betapa Agungnya karya Mu“ aku terus berdecap-decap mengucap syukur melihat keindahan yang tiada tara itu.
Erg Chegaga demikian para suku nomad menamai Padang Gurun Sahara dibagian barat itu nyaris tak tersentuh oleh turis karena tempatnya yang sulit di akses. Tempatnya yang jauh, biayanya yang mahal, tanpa listrik dan air membuat tempat ini bagaikan cerita legenda yang hanya ada dalam negeri dongeng saja.
Bukit-bukit pasir setinggi 60 meter ini dicatat sebagai bukit pasir tertinggi di Maroko dan konon katanya menjadi gurun yang terliar dan ternatural di Sahara.
Tempat ini benar-benar sepi, luas tak bertepi. Sejauh mata memandang hanya gundukan pasir yang tak berbatas, berbukit-bukit dan berkelok-kelok indah bersinar ditimpa cahaya jingga warna senja. Pinggirannya yang tak berbatas kelihatan menyentuh langit membentuk horizon yang elok ditemaram senja, menciptakan suasana syahdu penuh magic di dalam kalbu yang tak terlukiskan dengan kata. Alam membetang seluas mata memandang. Berkelak kelok disinari jingganya sunset.
Aku duduk diam dalam keheningan tanpa berhenti mengucap syukur. Membiarkan kakiku terbenam didalam pasir halus bersih semata kaki.
„Hanya sorang pemberani dan petualang sejati saja yang akan sampai kesini.“ Tiba-tiba Pak Sopir dan anaknya sudah duduk disamping kami.
„Jadi aku termasuk doong“ candaku mengingat perjalanan kami yang sulit tadi.
Sopir yang ramah itu mengangguk, “Iya…Saya yakin anda pemberani sekali dan bernyali besar“ ujarnya, lalu melajutkan „Saya kagum dan respek sama anda.“ tambahnya lagi.
„Akhirnya aku tiba juga disini“ bisikku dalam hati. Tanah yang kuyakini hanya berada didalam negeri dongeng itu telah berhasil kutapaki. Tak terasa ada bulir basah mengalir jatuh membasahi pasir lembut dihadapanku. Aku terharu dengan pengalaman ini.
„Silahkan menikmati sunset sendirian sepuasnya ya” kata pak sopir melihat wajahku, „aku akan membawa anakmu naik Onta.“ Entah dari mana kok tiba-tiba ada seorang penggembala onta muncul dari bukit pasir di belakang kami.
„Jangan jauh-jauh perginya pak, didekat sini-sini aja“ kataku yang kuatir kalau anakku  Ribka malah diculik dibawa lari.
Setelah sunset terbenam dan sebelum cuaca mulai benar-benar gelap, kami kembali ke tenda.
*****************
Sunset yang syahdu di Sahara
Tok! Tok ! Tok! Seseorang mengetuk pintu tenda kami.
Aku membuka pintu, „Makanan malam sudah siap“ kata sang kepala tenda.
„Dimana?“ tanyaku melihat tidak ada makanan yang dibawanya.
“Madam, silahkan makan di tenda yang paling ujung“ jawab si kepala tenda ramah, „Disana tenda khusus buat makan.“kepala tenda menjelaskan.
Takut makanan dingin aku dan anakku segera bergegas kesana.
Makanan yang tersedia diatas meja terlihat mewah, ada 5 macam menu dan lumayan banyak jika dimakan berdua saja. Aku menoleh kesekitar ruangan ternyata meja-meja yang lain kosong semua. Tak ada hidangan yang tersedia disana dan tidak ada tanda-tanda manusia lain yang akan datang.
Kupanggil kepala tenda itu “Permisi, kok kelihatan kosong dan sepi sekali? Apakah Cuma kami satu-satunya penghuni tenda malam ini?“ tanyaku menunjukan kecemasan.
Lelaki bertubuh kecil berambut ikal itu seperti memahami pikiranku.
„Jangan kuatir Madam, anda aman disini.“ Katanya meyakinkanku.
„Hari ini hanya anda dan putri anda satu-satunya tamu kami disini.” Jelasnya.
„Anda aman, kami akan membuat anda nyaman selama disini“ dia meyakinkan.
„Selesai makan malam silahkan bersantai didepan api unggun yang telah kami sediakan di depan tenda anda, kami akan memainkan musik perkusi khas suku nomad dari padang pasir untuk anda malam ini „ si kepala tenda menjelaskan penuh semangat.
Lelaki itu kemudian pamit menjauh dari meja kami membiarkan kami menikmati hidangan sendiri.
Tiba-tibat aku tersadar sesuatu.
Melihat makanan kami yang berlimpah, aku yakin mereka telah menyajikan semua makanan yang mereka masak malam ini buat kami. Mereka pasti belum makan juga.
Aku berpaling pada anakku, „Nak, makannya secukupnya saja walaupun enak yaa..kita harus sisakan makanan buat mereka mama yakin mereka pasti belum makan juga“ ujarku sambil membelai rambutnya.
“Sopir dan anaknya tadi itupun pasti belum makan juga.” Anakku langsung menggangguk tapi masih bertanya.
“Darimana mama tahu mereka belum makan dan tidak ada makanan cukup?” tanyanya lugu.
“Nak, melihat susahnya akses kesini dan tidak adanya tumbuh-tumbuhan disekitar, mama yakin pasti tidak mudah bagi mereka untuk mendapatkan makanan dan minuman“ Kataku memberi pengertian. Anakku yang berhati lembut itu langsung menyelesaikan suapannya dan bilang dia sudah kenyang dan mau menyisakan makanan secukup mungkin untuk pekerja tenda, sopir dan anaknya.
***
Selesai makan malam aku dan Ribka anakku segera menuju api unggun yang sudah mulai menyala didepan tenda kami. Tidak ada penerangan lain disini kecuali api anggun ini. Tak ada aliran dan penerangan listrik karena tempat ini memang terpencil sekali.
Orang yang hidup atau bermalam didaerah sini hanya mengandalkan cahaya api unggun atau senter jika malam tiba. Malam itu setidaknya api unggun dibuat di depan tenda kami dan kami diberi satu senter kecil untuk jaga-jaga jika mau ke toilet. Toiletnya ada di tenda terpisah jauh dibalik gundukan pasir.
Sesaat tiga pegawai tenda beserta sopir dan anaknya datang menghampiri kami. Mereka membawa gendang ditangannya dan mulai memainkan irama khas padang pasir :
Dung tak atak tak dung tak tak, Dung tak atak tak dung tak tak…

Mereka memainkan perkusi padang pasir dengan indahnya. Memainkan untuk aku dan anakku wanita satu-satunya yang menjadi penghuni tenda malam itu. Kami bercengkrama menambah akrab suasana.

Aku yang memang bisa menari tarian padang pasir tidak bisamenahan diri untuk bangkit berdiri dan menari mengikuti irama yang mereka mainkan. Mereka makin bersemangat memainkan musik untukku sambil sesekali mengeluarkan lengkingan saghareet  khas Timur Tengah. Sungguh diluar dugaan, walaupun aku menari dengan asik mengikuti irama, tidak ada pandangan tidak sopan sama sekali pun tidak ada kekurangajaran. Sepertinya mereka mengerti dengan baik bagaimana mereka memperlakukan tamunya dalam bidang tourism ini.

Jam menunjukan pukul 11 malam. Waktu bergulir sepi, sayup masih terdengar suara tabuh perkusi dari tenda-tenda yang tak tampak.
Suasana ramah dan penuh akrab malam itu menepiskan rasa raguku untuk berpamit tidur ke dalam tenda yang tanpa penerangan.  Dengan modal senter yang diberikan aku dan Ribka naik tempat tidur kami yang bermodel vintage bak dongeng putri padang pasir.

Kami terlelap hingga besok paginya dibangunkan untuk menikmati sunrise.

Setelah sarapan pagi yang sengaja disediakan di depan tenda kami, sopir mengajak kami pulang. Kami pamit dan berterima kasih untuk pengalaman indah kami disini.

-oo-

You might also enjoy: Traveeling, photography dan dance

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *